Kamis, 28 Desember 2017

PIAGAM GUMI SASAK YANG LUAR BIASA



   Piagam Gumi sasak adalah sebuah dokumen yang berisi kesepakatan bersama untuk membangun, menyatukan, dan menegakkan kembali kebudayaan sasak berdasarkan basis atau landasan yang sebenarnya. Tujuan dari munculnya piagam gumi sasak ini lahir dari sebuah diskusi panjang dari beberapa intelektual sasak yang memiliki prespektif budaya ke depan. Dari diskusi panjang tersebut terciptalah berbagai bentuk kajian, yang tentunya kajian tersebut tidak muncul begitu saja. Akan tetapi, kajian tersebut berasal dari kajian panjang yang dilakukan bersama oleh anggota lainnya dan ini menjadi tonggak awal lahirnya piagam gumi sasak.

       



   Setelah perjalan kajian yang panjang, kira-kira pada tanggal 17 Agustus 2015 bertepatan dengan acara launcing buku yang berjudul “MEMBACA ARSITEKTUR SASAK” karya Drs. H. L. Agus Fathurrahman (merupakan salah satu tokoh budaya yang sekarang menjabat sebagai ketua Taman Budaya) yang diadakan di kediaman beliau sendiri. Dan ini kemudian menjadi awal kesadaran bersama bahwa sasak memiliki khazanah ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi sejak zaman dahulu. Sebelum para tokoh budaya sudah bisa menghasilkan satu monumen peradaban yaitu kajian astronomi tradisi yang melahirkan sistem penanggalan sasak yang dikenal dengan “KALENDER ROWOT SASAK” sebelumnya pada tahun 2014.

  



   Dari sinilah kesadaran kita bahwa kita memiliki khazanah intelektual dan khazanah budaya yang sejak lama memiliki kajian-kajian yang sifatnya mengarah pada ilmu pengetahuan. Para tokoh budaya belum bisa menemukan titik nol dari kalender rowot sasak, sehingga para tokoh budaya belum bisa menentukan sekarang ini tahun berapa dan ini masih dalam kajian. Tetapi para tokoh sudah bisa menemukan satu tahapan peradaban yang sudah sangat panjang yaitu dalam penelitian arsitektur lumbung yang usia teknologinya 3.500 tahun SM. Ini menunjukan bahwa peradaban sasak sudah sangat tua. Dari kesadaran inilah yang kemudian, sejak bulan Agustus 2015 para tokoh budaya terus berdiskusi bersama. Yang kebetulan pada waktu itu bapak Agus sendirilah yang membuat atau menciptakan konsep awal dari piagam gumi sasak dengan nama “MANIVESTO KEBUDAYAAN” dan ini merupakan persiapan yang dilakukan untuk launcing pada tanggal 26 Desember 2015. Jadi sejak bulan Agustus - awal bulan Desember para tokoh terus melakukan diskusi, sampai naskah manivesto kebudayaan sasak tersebut selesai. Yang kemudian para tokoh kebudayaan kembali melakukan diskusi untuk menata isi dari manivesto kebudayaan, yang dihadiri oleh bapak Drs. H. L. Agus Fathurrahman sebagai pembuat atau pencipta konsep awal, Dr. Muhammad Fadjri, M.A (merupakan satu-satunya Doctor Sejarawan yang dimiliki oleh daerah NTB), Dr. H. Sudirman, M.Pd, Murahim S.Pd.,M.Pd, dan Muh. Syahrul Qodri, S.Pd., M.A. yang merupakan penggodok awal dari manivesto kebudayaan, yang kemudian diusulkan oleh bapak Fadjri yang disebut “PIAGAM GUMI SASAK” dengan isi yang tidak jauh berbeda dari konsep awal. Tetapi, terjadi pengeditan kalimat dan sebagainya sehingga lahirlah piagam gumi sasak seperti yang sekarang ini.



   Untuk pertama kalinya, pada tanggal 26 Desember 2015 PIAGAM GUMI SASAK dibacakan dalam acara launcing atau peluncuran KALENDER ROWOT SASAK pada tahun 2015 dan ini merupakan peluncuran kedua dari KALENDER ROWOT SASAK (yang pertama pada tahun 2014) sebagai tonggak kebangkitan sasak. Dan ini sudah menjadi tradisi, bahwa setiap tanggal 26 Desember ditetapkan sebagai hari peluncurkan KALENDER ROWOK SASAK yang berikutnya. Dengan acara pokoknya adalah Forum Ilmiah Sejarah Sasak dengan tema “Menjawab Historiografi Luar Tentang Sasak”. Jadi apa yang orang luar katakan tentang sasak dan sejarah sasak yang selama ini kita baca, merupakan rekayasa penjajah dan kita akan segera melahirkan suatu teks historiografi atau teks sejarah dengan metode historiografi yang benar menurut prespektif bangsa sasak.  Setelah pembacaan naskah pada tanggal 26 Desember 2015, pembacaan pertama dilakukan oleh Dr. Fadjri dihadapan majelis adat sasak yang diundang pada waktu itu, karena ada beberapa tokoh dari majelis adat sasak yang ikut menandatangani naskah tersebut. Diantaranya Drs. H. Lalu Azhar selaku Pemban adat Gumi Sasak, beliau merupakan orang yang dipanuti dan disepakati sebagai orang tuannya orang sasak sampai sekarang. Kemudian ditandatanggani juga oleh Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si, yang merupakan ketua harian majelis adat sasak, Ustad Ahyar Abdul yang sekarang menjabat sebagai Wali Kota Mataram, Dr. H. Husni Mu’adz, MA.,Ph. D. merupakan dosen senior Bahasa Inggris di  FKIP Unram dan mantan Dekan FKIP, Dr. sudirman, Dr. Fazri, dan ada tokok agama seperti Ustadz Muhit Ellepaki, M.Sc., Dr. Ari Irawan selaku direktur Lembaga Rowot, dan seorang penasehat hukum. Ini adalah nama-nama tokoh yang menandatangin PIAGAM GUMI SASAK pada waktu itu.


  Setelah pembacaan itu, kemudian majelis adat menggundang tim rowot yang melahirkan atau menciptakan PIAGAM GUMI SASAK ini untuk mengkaji kenapa piagam ini penting dan apa orientasinya kedepan. Sehingga pada waktu itu bapak Agus dan bapak Fadjri memberi penjelasan kepada majelis adat sasak tentang apa yang diharapkan dari piagam ini dan kedepannya seperti apa. Dalam pertemuan tersebut, disepakati oleh majelis adat sasak bahwa PIAGAM GUMI SASAK wajib diambil dan dibacakan pada setiap pertemuan yang berkaitan dengan adat dan kebudayaan sasak seperti, pada waktu Sangkep Beleq (musyawarah besar) majelis adat sasak. Sehingga pembukaan dari PIAGAM GUMI SASAK diambil sebagai pembukaan Anggaran Dasar majelis adat sasak. PIAGAM GUMI SASAK direncakan akan dikukuhkan dalam acara pengukuhan pengurus majelis adat sasak periode 2017, yang sebenarnya piagam tersebut sudah harus dikukuhkan. Akan tetapi, karena ada beberapa hal dan sebagainya pengukuhan piagam tersebut ditunda. Sebenarnya pada tanggal 26 Desember akan dilakukan pengukuhan PIAGAM GUMI SASAK, tetapi karena acara sidang dan seminar Forum Ilmiah Sejarah Sasak memakan waktu yang cukup lama yaitu dari pukul 08.00-16.00 WITA yang menyebabkan pengukuhan tersebut ditunda pelaksanaannya. Tetapi yang jelas keberadaan PIAGAM GUMI SASAK sudah menjadi milik bangsa sasak karena, sudah diangkat oleh majelis adat sasak dan dijadikan sebagai pembukaan pada Anggaran Dasar majelis adat sasak. dan ini akan di fatwahkan pada saat penggukuhan majelis adat sasak periode 2017.



   PIAGAM GUMI SASAK diambil dari latar belakang adanya Piagam Madinah yang pada waktu itu lahir untuk menyatukan kaum muslim dengan kaum nasrani atau yahudi yang ada di kota Madinah. Inilah latar belakang Dr. Fadjri mengusulkan Piagam Madinah yang pada dasar memiliki nilai yang sama, hanya saja Dr. Fadjri lebih pada rekonsiliasi dari semua agama dan semua bangsa yang ada di Madinah. Sedangkan nama “MANIVESTO KEBUDAYAAN” yang diusulkan oleh bapak Agus, lebih melihat kondisi kebudayaan yang ada pada saat itu. Dan implementasi dari PIAGAM GUMI SASAK adalah untuk membangun desa-desa madani, dan ada beberapa tempat yang sudah dirintis sebagai desa madani seperti desa kute dan sesait.


22 komentar:

  1. Saya bangga menjadi orang sasak😍👍
    Semangat untuk generasi muda💪💪

    BalasHapus
  2. Ide yang sangat luar biasa. Nama piagam diambil dari nama piagam madinah.

    BalasHapus
  3. postingan yang sangat bagus dan menarik

    BalasHapus
  4. keren...maju terus budaya sasak..

    BalasHapus
  5. Wah terima kasih atas postingannya, makin menambah wawasan tentang sasaq sendiri

    BalasHapus
  6. Memang seharusnya kita membangun masyarakat Madani agar semua bisa naik ke perahu bersama,berjuang bersama-sama mempertahankan identitas Sasak.😍

    BalasHapus
  7. Anak dompu mnggali suku sasak 👍 solidaritas

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Masih belum ngerti sy tentang kelender ruwot sasak😊😊

    BalasHapus
  10. Masih belum ngerti sy tentang kelender ruwot sasak😊😊

    BalasHapus
  11. artikel yang sangat bermanfaat. semoga dengan adanya piagam ini, masyarakat sasak lebih sadar akan nilai asli dari budayanya

    BalasHapus
  12. info yang bermanfaat.
    ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
  13. Bapak Agus benar-benar luar biasa. Kecintaannya terhadap sasak dan budaya sasak memberikan ide kreatif untuk membuat sebuah konsep agar kebudayaan sasak berkembang dan menjadi budaya yang tidak tenggelam oleh zaman yang semakin modern.

    BalasHapus
  14. Bapak Agus benar-benar luar biasa. Kecintaannya terhadap sasak dan budaya sasak memberikan ide kreatif untuk membuat sebuah konsep agar kebudayaan sasak berkembang dan menjadi budaya yang tidak tenggelam oleh zaman yang semakin modern.

    BalasHapus
  15. tulisan yang menarik serta menambah pengetahuan tentang budaya

    BalasHapus
  16. terimakasih, sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  17. Terimakasih Kk, postingannya sangat bermanfaat :).

    BalasHapus