Rimpu adalah gaya berbusana penutup aurat
masyarakat Bima Dompu pada zaman dulu, digunakan oleh perempuan Bima Dompu
ketika hendak keluar rumah. Rimpu mengandung nilai-nilai khas yang sejalan
dengan kondisi daerah yang bernuansa islam. Rimpu merupakan bentuk nyata dari
ketaatan masyarakat Bima Dompu (dou mbojo dompu) terhadap syariat islam. Para
tetua dahulu menyadari bahwa berhijab (menutup aurat) merupakan kewajiban bagi
setiap wanita seperti halnya diwajibkan shalat, puasa, dan zakat. Karena pada
saat itu belum ada pabrik kerudung maka digunakanlah sarung tenun khas Bima
Dompu yaitu tembe ngoli sebagai penutup tubuh atau aurat, yang kemudian rimpu
menjelma sebagai tradisi dan budaya bagi masyarakat Bima Dompu.
Rimpu
merupakan rangkaian busana yang menggunakan dua lembar (dua ndo`o) sarung tenun.
Kedua sarung tersebut digunakan untuk bagian atas dan bagian bawah dengan cara
melilitkannya dikepala dan hanya terlihat bagian wajah dan telapak tangan
seperti menggunakan mukena. Ada dua jenis rimpu yang digunakan masyarakat Bima
Dompu, bagi perempuan yang belum menikah memakai rimpu yang hanya terlihat bagian mata dan
telapak tangannya saja dan lebih dikenal dengan sebutan rimpu mpida. Sedangkan
bagi perempuan yang sudah menikah atau berkeluarga boleh terlihat bagian
wajahnya ketika memakai rimpu atau lebih dikenal dengan rimpu colo.
Kesan saya
untuk foto ini adalah saya sangat senang ketika saya berhasil memilih foto ini
dan menggunakannya sebagai latar untuk
postingan saya, karena menurut saya memilih satu foto dari sekian banyaknya
foto yang ambil itu sangat susah dan melelahkan. Saya juga merasa puas karena
hasilnya pun menurut saya cukup bagus. Apalagi ketika dosen mengatakan foto
yang saya ambil ini lumayan bagus, disitu saya merasa sangat senang dan
mengatakan pada diri saya “kerja bagus”. Walaupun mungkin banyak yang
menganggap foto ini biasa saja, tapi saya sudah sangat puas dengan hasil kerja
dan usaha saya sendiri.
Foto ini
diambil ketika saya, ibu, dan teman-teman kos saya sedang duduk santai di teras
depan kamar kos. Waktu itu saya teringat bahwa saya diberi tugas oleh bapak
dosen untuk mengambil foto tradisi dari berbagai daerah (Lombok, Bima, Dompu,
dan lain-lain), kemudian saya meminta bantuan kepada ibu dan teman kos saya
untuk menjadi model. Sebenarnya ibu pemilik kos-kosanlah yang seharusnya saya
ambil gambarnya, karena ibu kos lumayan sering menggunakan rimpu ketika
mengunjungin dan berkumpul bersama kami. Akan tetapi, karena ibu kos sedang
keluar daerah ketika bapak dosen memberi tugas ini, jadi saya meminta bantuan
mereka mengantikan ibu kos sebagai model untuk tugas saya. Begitulah cerita
singkat dari foto yang saya ambil.
wahh..unik skali ya, klau di lombok psti dibilang kyaq ninja2 gitu,,tpi itu mrupakan tradisi, dan dk ada yg salah dgn tradis..bgus..lnjutkan tulisannya!!
BalasHapusSungguh budaya yang luar biasa Daboo 😂
BalasHapuspostingan nya sngat membantu mbak trias..sngt bermanfaat
BalasHapusbudaya yang sangat menarik.
BalasHapusWah luar biasa yah budaya rimpu ini. Seperti ini nih budaya yang harus di lestarikan. Dimana terdapat sangat banyak nilai positif di baliknya :).
BalasHapusBudaya ini harus slalu kita lestarikan . Jangan pernah kita lupakan kebudayaan kita 😊
BalasHapusKalau sekarang masih enggak dipakai nggak? 😊
BalasHapusRalat, heheh rimpu ini msih dilestarikan apa tidak dikhidpn shari hari?
BalasHapusWah luar biasa. ini menjadi bukti bahawa masyarakat bima taat beragama denganwnutupi seluruh aurat mereka dengan kain ngholi dan rimpu orng yg sdh menikah dgn org yg blm menikah berbeda pula. Luar biasa, saya menginginkan kita sebagai generasi muda mempertahankannya.
BalasHapusSangat unik sekali tradisi pada suku Bima .baru kali ini saya tahu ternyata rimpu itu sejenis sarung yg digunakan sebagai jilbab.tapi pada masa sekarang ini apakah tradisi itu masih di pakai sampai sekarang apalagi yg kita ketahui pada zaman sekarang ini model jilbab sangat banyak dan apakah masyarakat Bima masih menggunakan rimpu
BalasHapusArtikel yg menambah wawasan..
BalasHapustrus di kembangkan mbak....
dan upayahkan untuk terus melestarikannya
Kebudayaan rimpu harus dilestarikan. Karena setiap budaya memiliki nilai yang baik.
BalasHapusKebudayaan rimpu harus dilestarikan. Karena setiap budaya memiliki nilai yang baik.
BalasHapusinfonya mantep namun yang sy ingin tanyakan kenapa ada perbedaan antara rimpu yang dipakai oleh orang yang sudah menikah dengan belum menikah?
BalasHapusunik budayanya... Lestarikan!
BalasHapus