Tradisi Compo Sampari
Prosesi Compo
Sampari merupa salah satu patokan dan ketentuan yang berlaku dalam ritual adat
sunatan dan khitanan seorang anak laki-laki atau bahasa daerahnya disebut “Suna
Randoso”. Compo Sampari adalah
menyarungkan keris pada anak laki-laki yang akan dikhitan. Tujuan dari
menyarungkan keris ke pinggang anak-anak itu adalah agar diri si anak tidak
gentar dan takut menghadapi musibah yang menimpa dirinya yaitu ujung
kemaluannya dipotong (dou rangga) dan sebagai landasan petuah adat masyarakat
dompu jasmani dan rohani harus memiliki empat faktor untuk kehidupan yaitu :
uma taho, wei taho, jara taho, besi taho yang artinya rumah yang baik, istri
yang baik, kuda yang baik dan besi yang baik untuk kehidupan.
Compo Sampari
dilakukan oleh orang-orang yang dihormati seperti pemuka agama di wilayah
tersebut. Sebelum Compo Sampari dilakukan ucapan salawat kepada Rasulullah
sebanyak tiga kali. Sedangkan keris itu diarahkan mengelilingi tubuh anak-anak
sebelum disarungkan pada pinggangnya. Dan setelah itu, anak-anak dibawa ke
ruang khitan dengan menggunakan sarung. Biasanya sarung yang digunakan berwarna
kuning untuk menanti pelaksanaan khitan. Biasanya prosesi Compo Sampari
dilaksakan sehari sebelum anak tersebut disunat.
Gambaran Kontroversi
Pada saat prosesi
Compo Sampari ini berlangsung, akan ada sebuah sesajian yang sudah disediakan
sebelum prosesi Compo Sampari atau lebih tepatnya sejak awal acara sunatan dan
khitanan ini berlangsung. Sesajian ini diperuntukan bagi anak laki-laki yang
akan disunat. Apabila sesajian tersebut dianggap kurang maka akan ada seseorang
atau warga yang mengalami kesurupan karena kurangnya sesajian tersebut (kura
soji). Orang yang mengalami kesurupan tersebut akan memberi tahukan apa saja
kekurangan dari sesajian yang di sediakan. Dan sesajian yang kurang tersebut
nantinya harus segera dilengkapi untuk menghindarkan hal buruk yang mungkin
saja terjadi selama proses khitanan berlangsung. Nantinya sesajian yang telah
disediakan akan dibawa pulang oleh dukun ataupun oleh orang yang mengkhitankan
anak tersebut.
Meluruskan pandangan
menjadi sesuatu yang bernilai baik
Sebenarnya
sesajian tersebut jika tidak disediakan, juga tidak menjadi sebuah masalah.
Hanya saya sesajian tersebut disediakan untuk menghargai dan melestarikan
pandangan nenek moyang pada zaman dulu yang berpandangan bahwa sesajian
tersebut disediakan untuk makhluk halus agar tidak menganggu pada saat anak
yang bersangkutan akan disunat.
Kini prosesi
Compo Sampari memang masih eksis di Bima dan Dompu. Prosesi ini adalah salah
satu warisan leluhur yang syarat makna bagi proses kehidupan seorang anak yang
akan melewati masa remaja hingga dewasa kelak.
Bukannya sunatan sama khitanan itu dia sama maksudnya?
BalasHapusTerima kasih infonya jadi tw salah satu tradisi Bima-Dompu..
BalasHapusWow Artikel yg menambah wawasan...
BalasHapusDi kembangkan lg mbak...
.
.
Wah.luar biasa. kira2 apa uoaya anda untuk mempertahankan tradisi ini?
BalasHapusTerimakasih Kk. Infonya sangat bermanfaat :).
BalasHapusTradisix bgus,,,
BalasHapustradisi yang sungguh luar biasa
BalasHapusAku sering lihat orang compo sampari, khususnya di daerah ku
BalasHapusAku sering lihat orang compo sampari, khususnya di daerah ku
BalasHapustradisi yang bagus dan harus dipertahankan. informasi yang luar biasa dan bisa menembah wawasan saya tentang budaya
BalasHapusBaru tau ternyata begini sebenarnya compo sampari.
BalasHapusTerima kasih informasinya
Terima kasih informasinya ..
BalasHapusterimakasih juga infonya... sangat bermanfaat
BalasHapus