Kamis, 21 Desember 2017

TRADISI MASYARAKAT BIMA DOMPU "Compo Sampari"


Tradisi Compo Sampari
     Prosesi Compo Sampari merupa salah satu patokan dan ketentuan yang berlaku dalam ritual adat sunatan dan khitanan seorang anak laki-laki atau bahasa daerahnya disebut “Suna Randoso”. Compo Sampari adalah  menyarungkan keris pada anak laki-laki yang akan dikhitan. Tujuan dari menyarungkan keris ke pinggang anak-anak itu adalah agar diri si anak tidak gentar dan takut menghadapi musibah yang menimpa dirinya yaitu ujung kemaluannya dipotong (dou rangga) dan sebagai landasan petuah adat masyarakat dompu jasmani dan rohani harus memiliki empat faktor untuk kehidupan yaitu : uma taho, wei taho, jara taho, besi taho yang artinya rumah yang baik, istri yang baik, kuda yang baik dan besi yang baik untuk kehidupan.
     Compo Sampari dilakukan oleh orang-orang yang dihormati seperti pemuka agama di wilayah tersebut. Sebelum Compo Sampari dilakukan ucapan salawat kepada Rasulullah sebanyak tiga kali. Sedangkan keris itu diarahkan mengelilingi tubuh anak-anak sebelum disarungkan pada pinggangnya. Dan setelah itu, anak-anak dibawa ke ruang khitan dengan menggunakan sarung. Biasanya sarung yang digunakan berwarna kuning untuk menanti pelaksanaan khitan. Biasanya prosesi Compo Sampari dilaksakan sehari sebelum anak tersebut disunat.

Gambaran Kontroversi
     Pada saat prosesi Compo Sampari ini berlangsung, akan ada sebuah sesajian yang sudah disediakan sebelum prosesi Compo Sampari atau lebih tepatnya sejak awal acara sunatan dan khitanan ini berlangsung. Sesajian ini diperuntukan bagi anak laki-laki yang akan disunat. Apabila sesajian tersebut dianggap kurang maka akan ada seseorang atau warga yang mengalami kesurupan karena kurangnya sesajian tersebut (kura soji). Orang yang mengalami kesurupan tersebut akan memberi tahukan apa saja kekurangan dari sesajian yang di sediakan. Dan sesajian yang kurang tersebut nantinya harus segera dilengkapi untuk menghindarkan hal buruk yang mungkin saja terjadi selama proses khitanan berlangsung. Nantinya sesajian yang telah disediakan akan dibawa pulang oleh dukun ataupun oleh orang yang mengkhitankan anak tersebut.

Meluruskan pandangan menjadi sesuatu yang bernilai baik
     Sebenarnya sesajian tersebut jika tidak disediakan, juga tidak menjadi sebuah masalah. Hanya saya sesajian tersebut disediakan untuk menghargai dan melestarikan pandangan nenek moyang pada zaman dulu yang berpandangan bahwa sesajian tersebut disediakan untuk makhluk halus agar tidak menganggu pada saat anak yang bersangkutan akan disunat.
Kini prosesi Compo Sampari memang masih eksis di Bima dan Dompu. Prosesi ini adalah salah satu warisan leluhur yang syarat makna bagi proses kehidupan seorang anak yang akan melewati masa remaja hingga dewasa kelak.

13 komentar:

  1. Bukannya sunatan sama khitanan itu dia sama maksudnya?

    BalasHapus
  2. Terima kasih infonya jadi tw salah satu tradisi Bima-Dompu..

    BalasHapus
  3. Wow Artikel yg menambah wawasan...
    Di kembangkan lg mbak...
    .
    .

    BalasHapus
  4. Wah.luar biasa. kira2 apa uoaya anda untuk mempertahankan tradisi ini?

    BalasHapus
  5. Terimakasih Kk. Infonya sangat bermanfaat :).

    BalasHapus
  6. Aku sering lihat orang compo sampari, khususnya di daerah ku

    BalasHapus
  7. Aku sering lihat orang compo sampari, khususnya di daerah ku

    BalasHapus
  8. tradisi yang bagus dan harus dipertahankan. informasi yang luar biasa dan bisa menembah wawasan saya tentang budaya

    BalasHapus
  9. Baru tau ternyata begini sebenarnya compo sampari.
    Terima kasih informasinya

    BalasHapus
  10. terimakasih juga infonya... sangat bermanfaat

    BalasHapus